I was in the darkness by Stephen Crane
I was in the darkness;
I could not see my words
Nor the wishes of my heart.
Then suddenly there was a great light —
“Let me into the darkness again.”
I was in the darkness;
I could not see my words
Nor the wishes of my heart.
Then suddenly there was a great light —
“Let me into the darkness again.”
“With the Needle That Sings in Her Heart” (2009) - workshop design process with Matt Rudman, construction, paint and body mic operator.
Lexington High School Performing Arts Department workshop production, directed by the amazing Steve Bogart. Using Neutral Milk Hotel (Jeff Mangum)’s album “In The Aeroplane Over the Sea” as a foundation, the cast and crew created an original piece of theater. The production received local attention with LHS graduate Amanda Palmer involved.
Articles: NPR, the Phoenix, the Bostonist, Hidden Track
I saw this Martin Custom Shop 0028VS again at Long & Mcquade Mississauga. It has been there for several weeks…and it’s so gorgeous the ONLY thing stopping me from buying it is the price! At $3100 (used), and for a guy who does not play acoustic guitar very often, it seems a bit frivolous to buy.
But MAYBE if I bought it, I would love it so much that I WOULD play it more often??? So it would be worth it, right??? Yeah…that’s right: I’ll play acoustic more often if I had it! YEAH! Ok then, gotta go…! #JustifyingImpulseBuys :D
Also, in case you were wondering, the photo here has been processed with an effect in Picasa 3 called “Pencil Drawing”. I like the look (in this case) - in general I don’t use a lot of effects on my photos, other than tweaking the contrast/brightness and sharpening the image sometimes, but once in a while it is fun to play around a bit with what even a relatively simple application can do to make a photo more interesting.
Toronto, Canada, January 4th, 2012.
Ia bernyanyi bak sepeda tua yang berdenyit
-Yoga Pratama
Sekilas keteracakanku membawa ingatan pada seorang sepupu, karena mereka sama-sama pribadi yang suka menulis dalam suatu ketertarikan yang sama, manusia. Tulisan yang potongan ceritanya sedang kubaca ini sangat rendah hati, juga mampu menyatukan emosi dari ragam pembacanya, dan hal tersebut adalah esensial.
kemampuan puitis yang dimiliki penulis ini mampu menarik simpati, sekaligus belajar memahami pola interaksi antara manusia dengan manusia, yang tak pernah mampu ku kuasai dengan baik sejak aku dilahirkan, karena haus akan pemahamanlah aku berusaha mengintip setiap tulisan berkualitas semacam ini.
Tentang manusia, yang tak pernah mau kunjung habis episodenya, yang tak ada satupun insan yang sanggup medeskripsikannya dengan sempurna.
Tiba-tiba telpon rumahku berdering dengan kuat, aaahhh!!! aku tak bisa lagi melanjutkan aktifitas menulisku ini dengan intensitas konsentrasi yang sama dari sebelumnya. Ku lanjutkan studiku ini nanti sajalah.
Akan ku sambung tulisanku ini esok lagi, entah dalam suatu bentuk yang berkesinambungan atau tidak.
#1 (Kutipan yang sedang ku baca dari buku “it chooses you” by: Miranda July)
Miranda July, Link: http://www.newyorker.com/online/blogs/books/2011/10/pam-photo-albums-10-each-lakewood-1.html
#2 (salah satu tulisan milik sepupuku)
My nawe was..
by Galant Yurdian on Thursday, 18 December 2008 at 11:33Bandar Lampung, Jum’at siang, 10 Desember 1982
Ratusan pasang sendal yang memenuhi lantai depan masjid itu mulai berkurang. Dikenakan oleh semua bujang masjid yang mengikuti shalat jum’at siang itu. Tampak seorang pria setengah baya dengan masih mengenakan sarung berjalan mantap hendak pulang ke rumahnya yang hanya beberapa gang dari masjid itu.
Sekilas terlihat tatapan menerawang di wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Rumahnya sudah dekat. Tinggal mengayunkan beberapa langkah lagi, dia akan sampai di gerbang rumahnya yang sederhana itu. Hasil dari jerih payahnya selama bekerja sejak berumur 13 tahun hingga bisa membuka perusahaan konveksi sendiri di Jl. Raden Intan dan menghidupi istri dan putra pertamanya itu.
Sesaat ketika dia hendak membuka pintu, tiba-tiba seorang tetangganya menghampirinya dengan nafas tersengal.
“Ed, bini loe udah mo ngelahirin..”
===
Angkot hijau yang dinaiki Ed sempat berhenti sebentar di pertigaan. Perasaan panik dan bercampur bahagia terlihat jelas di wajah Ed mengetahui anak keduanya lahir. Dan dia sedikit mulai tak sabar ingin menggendong anaknya itu.
Sejenak ketika Ed melihat keluar jendela, Ed sempat tertegun. Sebuah mobil Mitsubishi keluaran terbaru tahun 1981 mendahului angkot yang dinaikinya tadi.
Ed tersenyum.
===
Siapapun bisa merasakan suasana bahagia memenuhi ruangan di pojok koridor Rumah Bersalin Mutiara Putri siang itu. Ed menggendong putra barunya dengan istrinya masih berbaring di dipan. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah mereka berdua.
“Terus mau dikasih nama apa, Pak, putranya..?”
Bidan yang mebantu proses kelahiran tadi bertanya.
Dengan memberi kecupan kecil di kening sang anak, Ed menjawab singkat.
===
Bandung, sekitar akhir Juli 2008
“Jadi gitu ceritanya, Lant..?! Loe dikasih nama Galant..?!”
Temen gw yang satu ini masih ga percaya mendengar cerita gw barusan.
Gw cuma tersenyum kecil. Sampai sekarang gw juga masih ga terlalu yakin dengan cerita bokap tentang kenapa beliau iseng ngasi nama se-“aneh” itu. Ah, entah lah!
“Coba loe buka aja kamus Inggris-Indonesia.. Di situ ada definisi nama gw koq.. Cari aja kata “gallant”.. Jangan lupa..! L-nya dobel..! Trus kalo udah ketemu artinya, kabarin gw..!”
Teman gw cuma mengiyakan. Sesaat sebelum dia permisi mengakhiri pembicaraan kami lewat YM sore itu.
Gw ngakak lagi. Pasti dia ga bakalan terima kalo udah tahu arti kata asal nama gw itu. Karena memang kenyataannya berbeda jauh dengan kepribadian gw sehari-hari. Ha-ha.
Film Pina dari Wim wenders yang akan tayang secara terbatas 23 desember 2011 ini, membangkitkan kecintaan saya kembali akan ekspresionisme Jerman, pertama kali mengenalnya sekitar 10 tahun lalu.
Gestur dalam komposisi tari serta tata artistik menjadi representasi dialog dan sarat metafor atau simbolisasi, hampir 70% musik yang di manfaatkan menggunakan beat modern yang riang dan menggebu.